Postingan

Tidak Ada Salahnya

Kalaupun sekedar rayuan mata saja aku tak peduli Bukankah kata orang setiap manusia punya hati Jadi, lisan yang tak kuasa menahan rasa Pun, melontarkan aksara merah jambunya Lantas, bagaimana cerita mereka yang mati tanpa identifikasi? Mungkin ia adalah sosok yang paling percaya diri Diantara benda langit, ia adalah purnama Diantara samudera, ia adalah samudera Pasifik  Dan dia juga tak pernah peduli Omong kosong yang tak pernah diminta bersuara  Langkah kasar yang menghalangi jalannya Yang ia ingat hanya satu Aku tidak pernah mengusiknya, kalaupun ia mengusikku Mungkin sebatas penasaran saja

Lima Batang dari Akar yang Sama

Latarnya pun sama Sang ilalang pengusik tubuh asalnya Raut akar yang mengerutkan otot nyawa Namun, tidak kulihat cabang berkayu itu akan patah Hanya saja burung-burung enggan singgah Apakah ia kembali meragukan kepakkannya? Atau justru ia sedang waspada? Lima cabang itu adalah saudara Tidak pernah kulihat sengketa diantaranya Namun mengapa kini hampir patah dengan sendirinya? Bukankah pemilik telah rajin merawatnya? Bukan, dia hampir merusaknya Bukankah bunganya tak lagi nampak anggun bermekaran  Buahnya tak lagi merah menawan Lalu, apakah daunnya juga akan jatuh berguguran? Atau justru tanahnya akan kering kerontang? Mungkin, dan tidak mungkin

Sepuluh Ribu untuk Satu Minggu

Pagi itu pujangga baru telah mendaki punggung saku Kering kerontang nan berdebu Hanya selembar kertas bertuliskan basmalah satu tahun lalu Tiada kawan berharga selain satu lembar sepuluh ribu Ah, kacau... Teriak pemuda berkerut dahi  Malam itu hilang sudah udud dalam mulut menghitam Hanya ribuan nyamuk yang berbisik kawannya bergumam Kupikir hanya cerita khayal orang orang Ternyata nyata tanpa rekayasa  Aku adalah korbannya  Takut mati terlantar ditengah kota Pikirkanku berkecamuk  Apakah aku akan diam saja? Seketika aku sadar, aku tidak boleh diam saja Pulang bukan solusi utama Walaupun aku tahu rinduku akan terbayarkan dengan menatap orang yang kucinta Tapi jauh adalah makna Aku harus pulang dengan membawa sepikul cerita tak biasa

Tidak Tahu atau Tidak Mau Tahu

Angin menyapa lembut diantara hangatnya nyala api Semerbak rindu mulai mengikat janjinya pada gulita yang sepi Entah suara mana yang akan ia cari Esok mentari akan membawakan jawabnya pada pukul tujuh pagi Tidak, dia berbohong  Sampai kini aku belum melihatnya  Membawa sebersit berita yang kemarin dijanjikan olehnya Lantas apa yang membuatnya ingkar pada janjinya? Rembulan memang tak kulihat terang di pagi hari Begitupun bintang yang tak terlihat sama sekali Walaupun janjimu malam itu bintang dan rembulan jadi saksi Apakah siang bisa kau jadikan alasan untuk pergi? Akankah malam esok kau ulang kembali? Drama yang mengecoh ribuan mata tak berpenghuni  Kau yang paling terang  Namun, dunia ini bukan tentang siapa yang menang Adakah alasan lagi? Sesekali adalah kesalahan  Namun beberapa kali adalah kebiasaan  Jadi? Tahu kan ?

Telapak yang Tak Pernah Bercerita

Langkahmu tegas Padahal waktu masih pukul lima Sudah siap bertempur di medan yang tak pernah kau ceritakan Namun kau sering mengajakku berkelana dalam lautan  Nak, pergilah jauh untuk bekal tuamu Agar hidupmu lebih baik dariku Biarkan aku yang merasakan pahitnya memendam pilu Jangan sampai anakku Ayah, apakah aku tetap menjadi putri kecilmu? Sampai kau tak pernah bercerita tentang deritamu Apakah aku belum cukup dewasa? Aku tidak ingin ayah diam penuh luka Kulihat tanganmu tebal penuh tanggung jawab Langkahmu lebih keras dari kemarin Kerut dahimu mulai nampak kering Dan engkau tetap bersemangat tanpa geming 

Lilin Kecil Ibu

 Aku berjalan menepi diantara dua arah yang tak pernah kukenal Arah kanan aku harus lebih giat untuk mampu menghafal peta Arah kiri aku diarahkan untuk duduk mengamati hujan yang turun dua hari yang lalu Tiadakah jalan yang lebih normal untukku? Hampir saja kemarin api ku padam Kabur bersama belaian angin yang tak pernah kukenal Kata orang jadi saja daun Kau akan pasrah pada angin yang menjatuhkanmu  Tapi bukan keduanya, ataupun ketiganya maksudku Aku ingin mendengar kata hatiku Dan langkahku ini ringkih untuk berjalan laju laju Aku harus terus menjaga api ini tak padam walaupun diujung rindu

Pinjamkan Aku Sepotong Hati

Lalu lalang kendaraan menyerempet ilalang  Tegak kepala tuan hampir hilang Datang sang angin menerpa wajah tersayang Pergi sudah hati yang usang  Kau yang berdiri tegak diujung jalan  Apakah kau mendengarkan teriakan? Aku yang berteriak kesakitan Bolehkah aku pinjam sepotong hati tuan? Melodi mulai masam Pudar sudah tatapan dalam temaram Apakah terlalu banyak garam? Hingga lautan tak kurasa asin dalam kecapan  Buang jauh jauh dari tempat ini  Kau sudah hilang dan tak peduli  Demikian pula mawar tajam ini  Rontok satu satu kelompok dan hilang wangi