Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Mendung Tiruan

Engkau telah menganyam pintamu dimalam raya Setiap hari rasanya langit penuh dengan nama nama Tak pernah lelah kau menatap rembulan  Kau bayangkan dia hadir dengan senyuman Bukankah aku terlalu memaksa Apa yang bukan milikku Biarpun begitu aku belum rela Bukankah aku juga berhak berdoa Siapa sebenarnya nama yang kau puja? Hingga kulihat kau selalu girang menatap bayangannya Aku takkan pernah mencarimu Hingga aku tahu siapa dia yang kau maksud itu

Pojok 3.08

Dua puluh tahun kutapaki Kadang aku berjalan lamban juga berlari Merasa paling menderita diantara makhluk bumi Tangis haru pecah diantara cangkir kopi Terkadang aku berhenti sejenak untuk mengobati luka hati Ternyata yang kumaksud bukan apa yang kurasa hari ini Bahan aku lupa, luka yang sebenarnya terjadi Aku tidak menoleh kebelakang untuk bersyukur hari ini Padahal hamparan jagad raya telah menjadi saksi Si anak bengis ini telah berjalan landai diatasa tetesan darah suci Tanapa ia sadari Apakah aku hanya sebatas penikmat penderitaan yang telah dilupakan ?

Sejak Bila

 Sampai ketika aku tersungkur Atau sejak aku mulai kehilangan rasa syukur Tatkala hanya dunia yang terlihat didepan mata Kaki berat rasanya melangkah  Dengan sajak aku sering bercerita Namun nyatanya aku sering mendua Apakah Tuhan akan melupakan hamba Betapa murkanya  Tatkala aku terluka Baru sadar aku jauh dari-Nya Kemarin kemana saja ? Apakah kau hanya ingat saat hatimu hancur saja ?