Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Sepuluh Ribu untuk Satu Minggu

Pagi itu pujangga baru telah mendaki punggung saku Kering kerontang nan berdebu Hanya selembar kertas bertuliskan basmalah satu tahun lalu Tiada kawan berharga selain satu lembar sepuluh ribu Ah, kacau... Teriak pemuda berkerut dahi  Malam itu hilang sudah udud dalam mulut menghitam Hanya ribuan nyamuk yang berbisik kawannya bergumam Kupikir hanya cerita khayal orang orang Ternyata nyata tanpa rekayasa  Aku adalah korbannya  Takut mati terlantar ditengah kota Pikirkanku berkecamuk  Apakah aku akan diam saja? Seketika aku sadar, aku tidak boleh diam saja Pulang bukan solusi utama Walaupun aku tahu rinduku akan terbayarkan dengan menatap orang yang kucinta Tapi jauh adalah makna Aku harus pulang dengan membawa sepikul cerita tak biasa

Tidak Tahu atau Tidak Mau Tahu

Angin menyapa lembut diantara hangatnya nyala api Semerbak rindu mulai mengikat janjinya pada gulita yang sepi Entah suara mana yang akan ia cari Esok mentari akan membawakan jawabnya pada pukul tujuh pagi Tidak, dia berbohong  Sampai kini aku belum melihatnya  Membawa sebersit berita yang kemarin dijanjikan olehnya Lantas apa yang membuatnya ingkar pada janjinya? Rembulan memang tak kulihat terang di pagi hari Begitupun bintang yang tak terlihat sama sekali Walaupun janjimu malam itu bintang dan rembulan jadi saksi Apakah siang bisa kau jadikan alasan untuk pergi? Akankah malam esok kau ulang kembali? Drama yang mengecoh ribuan mata tak berpenghuni  Kau yang paling terang  Namun, dunia ini bukan tentang siapa yang menang Adakah alasan lagi? Sesekali adalah kesalahan  Namun beberapa kali adalah kebiasaan  Jadi? Tahu kan ?

Telapak yang Tak Pernah Bercerita

Langkahmu tegas Padahal waktu masih pukul lima Sudah siap bertempur di medan yang tak pernah kau ceritakan Namun kau sering mengajakku berkelana dalam lautan  Nak, pergilah jauh untuk bekal tuamu Agar hidupmu lebih baik dariku Biarkan aku yang merasakan pahitnya memendam pilu Jangan sampai anakku Ayah, apakah aku tetap menjadi putri kecilmu? Sampai kau tak pernah bercerita tentang deritamu Apakah aku belum cukup dewasa? Aku tidak ingin ayah diam penuh luka Kulihat tanganmu tebal penuh tanggung jawab Langkahmu lebih keras dari kemarin Kerut dahimu mulai nampak kering Dan engkau tetap bersemangat tanpa geming