Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Dasawarsa yang Lalu

 Teriak seseorang dari sudut kota yang  kukenal  Walaupun lirih namun tak pernah menyangkal Jarakku dan jaraknya hanya sebatas jengkal Walaupun, kini tak lagi suara itu menimpal Aku tak ingin mengusik ketenanganmu Hanya terkadang riuhnya kota tak sebanding dibanding bisingnya kepalaku Lamunanku telah membela egois yang dulu pernah kau larang Namun nyatanya ragaku memilih tuk menentang Aku hanya rindu rona malam yang dulu iri padaku Aku rindu rumput ilalang menjadi saksi rintihan tawaku Kukira malam itu akan selamanya kekal Ternyata waktu memilih untuk berhenti berjalan Apakah engkau ingat? Dulu aku sematkan foto itu pada bintang Agar esok bisa kulihat dengan riang Namun sepertinya foto itu jatuh terombang ambing angin malam

Tembok Bisu

 Pojok surau kini telah hening Walaupun telah Kau panggil, tak kulihat hati bergeming  Korelasi antara niat dan realita tak seimbang katanya Bisikan sayu dari dunia fana telah meluruhkan tujuan utamanya  Langkahnya kini tergelincir Dengan ringkih tubuhnya kocar kacir Oh iya.... Siapa yang pernah melihat cerita dongeng? Ya, itu ucap mereka Kalau kau cari sudut kota yang tak berisik Maka jangan tanyakan kami Yang kutahu, semakin orang bersuara maka semakin kau melihat siapa yang tak dianggap berharga Bukan kritis tapi meringis Diamlah tembok bisu Ini rahasia antara kau dan aku