Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Bungkus gorengan

Kertas putih yang mengambang berat  Cakrawala dibentuknya dengan catatan dan ambisi hebat Sebanyak seribu kali lembar dibukanya Impresi anak negeri pada setiap halamannya  Namun kini adalah ote ote, dan pisang goreng yang menguasainya Bahkan ikan asap dengan ikatan karet yang menyesakkan dada  Netra menatap geram Resah berkepanjangan  Namun normalisasi kali ini berlebihan Apakah hakikatnya demikian?  

Tanah Gersang

Pukul tujuh yang lalu Berdiri tegar memimpin haluan untuk meramu Katanya laut itu dalam Jangan kau menyelam Larangan atau perintah? Kau tak pernah menjelaskan  Pukul delapan yang lalu Nak, siang itu belum tentu membawa benderang  Dan malam belum tentu membawa temaram Tapi bawalah obor untuk siang yang tiba tiba tak sesuai aturan Tapi jangan pernah bawa lentera apapun pada gulita malam Pukul sembilan yang lalu Angin itu berjalan sendirian Tapi, tidak dengan dedaunan  Hanya bunga dan rumput liar yang disapanya abadi hingga tertimbun waktu Bukankah begitu ?

Bukan Properti

Tak ada pernah kudengar ucapmu mengatakan "Bagaimana?" Tak pernah kulihat tanganmu mengelus rambut kepala  Teriakmu memang tak sekeras teriaknya Namun, apakah kau pernah memikirkan hati kecilnya Aku tak memaksa untuk menyebutku kesayangan  Aku tak memaksa juga engkau memberiku kado setiap pekan Namun, aku berharap besar  Ada waktu luang untukku dan untukmu untuk saling bersandar Mimpiku... Tujuanku... Ah payah.... Beruntungnya aku Apakah aku berhenti begitu saja? Tidak akan Maaf aku belum menjadi apa yang engkau minta Namun aku sedang berusaha  Jadi,  Peluk aku erat dengan doa dan ketengan itu Aku tak meminta lebih Hanya seteguk rasa tenang dan menghargai  Sudah cukup itu saja.