Postingan

Lilin Kecil Ibu

 Aku berjalan menepi diantara dua arah yang tak pernah kukenal Arah kanan aku harus lebih giat untuk mampu menghafal peta Arah kiri aku diarahkan untuk duduk mengamati hujan yang turun dua hari yang lalu Tiadakah jalan yang lebih normal untukku? Hampir saja kemarin api ku padam Kabur bersama belaian angin yang tak pernah kukenal Kata orang jadi saja daun Kau akan pasrah pada angin yang menjatuhkanmu  Tapi bukan keduanya, ataupun ketiganya maksudku Aku ingin mendengar kata hatiku Dan langkahku ini ringkih untuk berjalan laju laju Aku harus terus menjaga api ini tak padam walaupun diujung rindu

Pinjamkan Aku Sepotong Hati

Lalu lalang kendaraan menyerempet ilalang  Tegak kepala tuan hampir hilang Datang sang angin menerpa wajah tersayang Pergi sudah hati yang usang  Kau yang berdiri tegak diujung jalan  Apakah kau mendengarkan teriakan? Aku yang berteriak kesakitan Bolehkah aku pinjam sepotong hati tuan? Melodi mulai masam Pudar sudah tatapan dalam temaram Apakah terlalu banyak garam? Hingga lautan tak kurasa asin dalam kecapan  Buang jauh jauh dari tempat ini  Kau sudah hilang dan tak peduli  Demikian pula mawar tajam ini  Rontok satu satu kelompok dan hilang wangi

Aku

Selebihnya adalah cerita yang kusam Kata mereka tak selalu sama  Mereka berlebihan Aku terlalu hina Namun Tuhan melindungiku dengan prasangka baik Aku malu.... Aku hanyalah sebatang kayu yang rapuh Rapuhku telah beranjak patah Selebihnya adalah kuasa Tuhan Bukan aku semata Tapi orang orang menganggap mutiara Padahal sebutir pasir pun aku tak ada apa apanya

0

Orang mengenalku sebagai sesuatu yang tak bernilai Aku hanyalah figuran dalam kehidupan  Mereka menganggapku keramat Mendapatkan ku ada hal sial Siapa yang akan mengenalku? Tapi lihatlah tanpa aku Mereka hanya numeralia tak bernilai Apakah meraka akan menganggapku tidak ada selamanya ? Padahal kehidupan serasi sering aku yang mengukir pertama Mereka yang setia akan datang padanya bahagia

Mendung Tiruan

Engkau telah menganyam pintamu dimalam raya Setiap hari rasanya langit penuh dengan nama nama Tak pernah lelah kau menatap rembulan  Kau bayangkan dia hadir dengan senyuman Bukankah aku terlalu memaksa Apa yang bukan milikku Biarpun begitu aku belum rela Bukankah aku juga berhak berdoa Siapa sebenarnya nama yang kau puja? Hingga kulihat kau selalu girang menatap bayangannya Aku takkan pernah mencarimu Hingga aku tahu siapa dia yang kau maksud itu

Pojok 3.08

Dua puluh tahun kutapaki Kadang aku berjalan lamban juga berlari Merasa paling menderita diantara makhluk bumi Tangis haru pecah diantara cangkir kopi Terkadang aku berhenti sejenak untuk mengobati luka hati Ternyata yang kumaksud bukan apa yang kurasa hari ini Bahan aku lupa, luka yang sebenarnya terjadi Aku tidak menoleh kebelakang untuk bersyukur hari ini Padahal hamparan jagad raya telah menjadi saksi Si anak bengis ini telah berjalan landai diatasa tetesan darah suci Tanapa ia sadari Apakah aku hanya sebatas penikmat penderitaan yang telah dilupakan ?

Sejak Bila

 Sampai ketika aku tersungkur Atau sejak aku mulai kehilangan rasa syukur Tatkala hanya dunia yang terlihat didepan mata Kaki berat rasanya melangkah  Dengan sajak aku sering bercerita Namun nyatanya aku sering mendua Apakah Tuhan akan melupakan hamba Betapa murkanya  Tatkala aku terluka Baru sadar aku jauh dari-Nya Kemarin kemana saja ? Apakah kau hanya ingat saat hatimu hancur saja ?