Postingan

Mendung Tiruan

Engkau telah menganyam pintamu dimalam raya Setiap hari rasanya langit penuh dengan nama nama Tak pernah lelah kau menatap rembulan  Kau bayangkan dia hadir dengan senyuman Bukankah aku terlalu memaksa Apa yang bukan milikku Biarpun begitu aku belum rela Bukankah aku juga berhak berdoa Siapa sebenarnya nama yang kau puja? Hingga kulihat kau selalu girang menatap bayangannya Aku takkan pernah mencarimu Hingga aku tahu siapa dia yang kau maksud itu

Pojok 3.08

Dua puluh tahun kutapaki Kadang aku berjalan lamban juga berlari Merasa paling menderita diantara makhluk bumi Tangis haru pecah diantara cangkir kopi Terkadang aku berhenti sejenak untuk mengobati luka hati Ternyata yang kumaksud bukan apa yang kurasa hari ini Bahan aku lupa, luka yang sebenarnya terjadi Aku tidak menoleh kebelakang untuk bersyukur hari ini Padahal hamparan jagad raya telah menjadi saksi Si anak bengis ini telah berjalan landai diatasa tetesan darah suci Tanapa ia sadari Apakah aku hanya sebatas penikmat penderitaan yang telah dilupakan ?

Sejak Bila

 Sampai ketika aku tersungkur Atau sejak aku mulai kehilangan rasa syukur Tatkala hanya dunia yang terlihat didepan mata Kaki berat rasanya melangkah  Dengan sajak aku sering bercerita Namun nyatanya aku sering mendua Apakah Tuhan akan melupakan hamba Betapa murkanya  Tatkala aku terluka Baru sadar aku jauh dari-Nya Kemarin kemana saja ? Apakah kau hanya ingat saat hatimu hancur saja ?

Berjalan

 Dia si anak kecil Berdiri tegap diatas ribuan kerikil Berteriak lantang dan mengangkat tangan  Aku adalah pahlawan Walaupun aku tidak berlari  Aku tak berhenti berjalan Kau tanya sampai kapan? Sampai aku tertidur pulas dalam ayunan Teriak lantang tak pernah hilang  Sepatu dekil selalu dikenakannya  Untuk mengelabuhi musuhnya  Sering ia ke medan perang tanpa pedang Langkahnya tak secepat kawannya Ia tahu sudah tertinggal jauh daripada mereka Ucapnya "tenag saja" Aku akan mengejarnya 

Hanyut

 Aku kemari dengan menjadi gelas kosong Pergi dari negeri nan jauh Kembali membawa cerita yang indah Namun ingin aku menyerah Semakin aku mengnal Semakin aku hina Atas dasar apakah aku bisa lancang meyebut nama anda Aturanpun aku tak pernah membaca Bagaimana mungkin ? Mendekap duri mawar dengan tangan kosong Nyatanya aku harus sadar Agar tak terlalu jauh hanyut dalam muara Sungguh selaksa  Akan kuuntai satu persatu dalam atma Putaran bumi juga ingin kutanya rasanya Sejak kapan rasaku mulai temaram Sepertinya kidung atas asmamu mulai lunglai Maffkan manusia bodoh ini  Lengkara untuk kupeluk erat Nyatanya aku terlalu memaksakan diri Mungkin aku harus pergi.... Selamat tinggal dan hati-hati

Pulang Juga Akhirnya

 Aku sudah angkat senjataku dari kemarin lusa Kakiku sudah penuh dengan kapal yang tebal Gunungan emas telah tersaji untuk seorang tercinta Kini....... Tulangku hancur berkeping jadi abu  Matahari terik akan berkawan lama denganku Sepotong kue dibagikan penuh riang Secangkir teh hangat diseruput dengan nikmat Semangkuk rawon telah habis disantap Kemana tangis pilu yang kemarin meraung tak rela ? Bahkan siluet raga pun sekejap telah sirna Secepat itukah kau lupa ?

Ulah Si Aku

Aku datang dengan tidak tahu Meramu.... Mentari timur setiap saat menatap wajah yakinku Aku bersikukuh membuntutimu Tiga palu yang menempa Aku mulai memahaminya Mulai datang rasa cinta Menjadikanku keluarga daripadanya Namun.... Kini rumah asalaku memanggilku Dia bilang kamu anakku Aku tak akan pergi begitu saja Maafkan aku bukan angkuh dan rakus Hanya saja aku tak sanggup kehilangan  Biarkan kata orang  Aku tidak peduli Duniaku keduanya Aku lahir dinegeri tetangga Namun mulai tumbuh cinta dinegeri beta Walaupun begitu kan kuberbakti pada keduanya