Postingan

Amplop

Kertas putih berisikan kisah akan datang Bertebaran seperti halnya sampah  Lima pemuda turut berduka Surat lamaran tidak dapat diterima Syaratnya harus punya sekebun bukan segudang Langkahnya tak perlu cepat, yang penting tak pernah terlambat  Penanya tak harus basah, yang penting memberikan yang pantas Mau jadi apa ? Relakan nyawa cucu Demi usia yang belum tahu  Benteng yang dibangun kuat-kuat  Kalah dengan akar yang tumbuh merayap Jalak hitam terbang tinggi Burung dara terlantar mati

Ember dan Arsitek Masa Depan

  Langkahku terbirit birit Dari ujung kilihat badai digital akan menghantam Gelombang kemajuan menghampiri menggulung ribuan mimpi yang telah disusun rapi Gemburan digital tidak lagi tenang   Sampan yang kubuat rasanya hilang arah Dayung yang kujaga bertahun tahun mulai goyah Apakah ini pertanda aku akan tertelan keadaan? Darimana sesuap nasi dapat kumakan ?   Penuh sudah sampan dengan air baih Oh iya aku masih punya ember kepercayaan Kan kulawan badai dengan ember yang telah kubawa Aku tidak mau perahuku hancur begitu saja hanya dengan takut keadaan   Aku harus melangkah cepat Aku punya masa depan Kuhadapi semua dengan doa dan ikhtiar Mimpiku tak boleh putus ditengah jalan   Kemarin aku telah berjanji Aku harus pulang membawa tangkapan Aku yakin pada gagasan dan perjuangan Aku layak menjadi bagian perancang masa depan   Mungkin banyak disel yang membawa berlayar lebih cepat Namun dayung juga tetap ber...

Kembali Layu

Bolehkah aku menopang tubuh pada sandaran kayumu? Bolehkah aku meregangkan badan mungilku pada akarmu? Bolehkah aku bersandar pada rantingmu yang rimbun itu? Ijinkan aku menghela napas panjang yang lama ku diamkan ini Akarku tidak lagi tertancap pada lahan yang sama Oksigen yang kuhirup tak lagi sama Pergi jauh aku dari tempatku ditanam Ling Ling seperti orang hilang Terjal sedikit tajam Kadang halus tapi ketus Benarkah aku bukan lagi bocah? Tapi kenapa bajuku sering kali basah? Ah.. sudahlah Mau bilang terserah Tapi ndak boleh menyerah Ndak boleh kalah Tulungagung, 21 Desember 2024

Andai alam berbicara

Mendengarkan satu huruf saja aku bahagia Apalagi aku paham makna dari apa yang kau utarakan Tapi apakah aku boleh meminta? Jangan kau katakan, atau aku akan terluka Andai dunia mampu menyuarakan isi hatiku Alam mampu berseru Burung mengalunkan nada merdu Semua menyebut namamu Diammu sangat mengagumkan Apalah manusia halu ini Pada rindangnya pohon Kau adalah akar Tak terlihat  Namun sangat mengagumkan Pada pagi yang berbinar Kau adalah mentari Menakjubkan  Namun tak mudah didapatkan Pada gulita gemerlapan  Kau adalah rembulan  Sosok istimewa Yang paling menawan  Pada hujan yang deras Kau adalah rintik yang lembut Rela turun tahta nabastala Demi untuk sumber penghidupan  Tulungagung, 

Besok atau Lusa?

Kebiasaan mu memiringkan gawai Remah berserakan ditepi sungai  Namun angin berhembus biasa saja Seperti tidak terjadi apa-apa  Kulihat kini pemuda sibuk menundukkan kepala Khusyu dengan dirinya  Tuan puan telah kehilangan harapan Kemana jalan masa depan ? Jalannya kini lebih santai Namun bukan berarti menulisnya juga santai Besok atau lusa? Kuncinya adalah mereka Tulungagung, 15 Desember 2024

Tandanya Aku Ada

 Aku si payung teduh Jalanku ringkih dan suka mengeluh Bukan darah biru Atau bahkan anak penghulu Hanya menulis rangkaian harapan hidup Dikertas usang hampir lapuk Harapanku mereka melihat Bahwa aku pernah hidup Kalaupun nanti aku tiada Setidaknya aku pernah bercerita Tentang perjalananku yang tak biasa saja Agar mereka membaca, bahwa hidup adalah tempat menuliskan cerita Tulungagung, 12 Desember 2024

Apa adanya

Biarkan dirimu duduk tenang Hatimu tenang Tidaklah harus sama persis Adakalanya kamu menangis Tidak ada yang sempurna  Namun cukup bersyukur atas segala nikmat dari-Nya Oh yaa Apakah kamu sudah bersyukur hari ini Hari ini sudah luar biasa Dirimu telah menjadi apa yang belum bisa orang lain lakukan Lanjutkan Dan jangan lupa berdoa